Kamis, 30 Januari 2014

load balancing Static route dengan Address list

Pada kesempatan ini, saya sharing teknik untuk menggabungkan 2 modem dalam satu HUB, mudah-mudahan bisa menambah pengetahuan anda : 
Sebelum memulai, PASTIKAN semua Kabel koneksi telah terhubung pada TEMPATNYA.

Untuk Modem Pertama

- Login ke 192.168.1.1, masukkan User ID & Password
- Masuklah ke bagian pengaturan (advance option) sesuai dengan jenis modem ADSL yang dipakai
- Pilih pengaturan LAN
- Kita hanya mengubah Subnet Mask Default 255.255.255.0 ke 255.255.255.128, kemudian jika DHCP Server di enable, maka Subnet Mask Default nya kita ubah menjadi 255.255.255.127.
- Setelah selesai, pilih Save & Reboot Modem
- Sesudah Reboot, Cek Ping ke 202.134.0.155, jika ping jalan maka setting modem berhasil
- Setting lah PC Client dengan memberikan IP Address 192.168.1.4 s/d 192.168.1.127, Subnet Mask Biarkan saja, Default Gateway isi dengan alamat IP address modem 1 yaitu 192.168.1.1
- DNS Server & Alternative DNS Server PC Client sesuaikan dengan DNS Server & Alternative DNS Server PC Server, misalnya 202.134.1.10 & 202.134.0.155 (DNS Server Speedy) atau 208.67.222.222 & 208.67.220.220 (DNS Server OpenDNS)
- Setelah Selesai Kembali ke PC Server untuk Setting Modem 2

Untuk Modem Kedua

- Matikanlah terlebih dahulu modem pertama & Hidupkan modem kedua
- Login ke 192.168.1.1, masukkan User ID & Password
- Masuklah ke bagian pengaturan (advance option) sesuai dengan jenis modem ADSL yang dipakai
- Pilih pengaturan LAN
- Karena Modem Pertama untuk 128 PC, maka ubahlah IP Addres modem kedua dari 192.168.1.1 menjadi 192.168.1.130
- Ubah Subnet Mask Default 255.255.255.0 ke 255.255.255.128, kemudian jika DHCP Server di enable, maka Subnet Mask Default nya kita ubah menjadi 255.255.255.127.
- Setelah selesai, pilih Save & Reboot Modem
- Selesai Reboot, PASTI koneksi Internet PC Server bermasalah, mengapa? Karena PC Server masih membaca alamat IP Address Modem Pertama
- Untuk mengatasinya, masuk Control Panel—Network Connections—Properties—Pilih Internet Protocol TCP/IP—Properties.
- Ubahlah untuk sementara IP Address dari 192.168.1.3 ke 192.168.1.131, Default Gateway menjadi 192.168.1.130 (karena alamat IP Address modem Kedua adalah 192.168.1.130).
- Jika sudah pilih OK & Close.
- Cek Ping ke 202.134.0.155, jika ping jalan maka setting modem kedua berhasil
- Matikan modem kedua.
- Kembalikan setting Network Connection PC Server dengan cara masuk Control Panel—Network Connections—Properties—Pilih Internet Protocol TCP/IP—Properties.
- PC Server harus mengikuti Settingan Modem Pertama, Jadi kembalikan PC Server ke IP Address 192.168.1.3, Default Gateway 192.168.1.1. Hal ini dilakukan karena biasanya IP Address Biling Client di PC Client adalah 192.168.1.3 mengikuti IP Address PC Server yang sudah terinstall Billing Server.
- Setelah selesai, Reboot PC Server dan hidupkan Modem pertama & Modem kedua
- Selesai Reboot PC Server, Bukalah Program Billing Servernya.
- Baru anda menuju ke PC Client yang anda inginkan untuk membaca koneksi internet dari Modem Kedua.
- Di PC Client Masuk Control Panel—Network Connections—Properties—Pilih Internet Protocol TCP/IP—Properties.
- Setting lah PC Client dengan memberikan IP Address 192.168.1.131 s/d 192.168.1.258, Subnet Mask Biarkan saja, Default Gateway isi dengan alamat IP address modem kedua yaitu 192.168.1.130.
- Sekarang anda punya Warnet dengan 2 Modem 1 HUB 1 PC Server, SELAMAT.

Setting Subnet Mask yang Lain :

CIDR Desimal Jumlah Mesin
/30 255.255.255.252 4
/29 255.255.255.248 8
/28 255.255.255.240 16
/27 255.255.255.224 32
/26 255.255.255.192 64
/25 255.255.255.128 128
/24 255.255.255.0 256
/16 255.255.0.0 65 536
/8 255.0.0.0 16777216

Sesuaikan Jumlah PC Client Warnet Anda, jika PC Client Warnet Anda berjumlah 20 unit, gunakan subnet mask 255.255.255.224 (Maksimal 32 Unit PC Client) agar mempermudah kerja Modem di PC server yang hanya akan membaca 32 alamat IP Address PC Client saja, sehingga akan mempercepat koneksi jaringan Internet anda.

Selasa, 28 Januari 2014

Load Balance menggunakan Metode PCC

             Load balance pada mikrotik adalah teknik untuk mendistribusikan beban trafik pada dua atau lebih jalur koneksi secara seimbang, agar trafik dapat berjalan optimal, memaksimalkan throughput, memperkecil waktu tanggap dan menghindari overload pada salah satu jalur koneksi. Selama ini banyak dari kita yang beranggapan salah, bahwa dengan menggunakan loadbalance dua jalur koneksi , maka besar bandwidth yang akan kita dapatkan menjadi dua kali lipat dari bandwidth sebelum menggunakan loadbalance (akumulasi dari kedua bandwidth tersebut). Hal ini perlu kita perjelas dahulu, bahwa loadbalance tidak akan menambah besar bandwidth yang kita peroleh, tetapi hanya bertugas untuk membagi trafik dari kedua bandwidth tersebut agar dapat terpakai secara seimbang.
Dengan artikel ini, kita akan membuktikan bahwa dalam penggunaan loadbalancing tidak seperti rumus matematika 512 + 256 = 768, akan tetapi 512 + 256 = 512 + 256, atau 512 + 256 = 256 + 256 + 256.
Pada artikel ini kami menggunakan RB433UAH dengan kondisi sebagai berikut :
1.    Ether1 dan Ether2 terhubung pada ISP yang berbeda dengan besar bandwdith yang berbeda. ISP1 sebesar 512kbps dan ISP2 sebesar 256kbps.
2.    Kita akan menggunakan web-proxy internal dan menggunakan openDNS.
3.    Mikrotik RouterOS anda menggunakan versi 4.5  karena fitur PCC mulai dikenal pada versi 3.24.
Jika pada kondisi diatas berbeda dengan kondisi jaringan ditempat anda, maka konfigurasi yang akan kita jabarkan disini harus anda sesuaikan dengan konfigurasi untuk jaringan ditempat anda.

Konfigurasi Dasar

Berikut ini adalah Topologi Jaringan dan IP address yang akan kita gunakan

/ip address
add address=192.168.101.2/30 interface=ether1
add address=192.168.102.2/30 interface=ether2
add address=10.10.10.1/24 interface=wlan2
/ip dns
set allow-remote-requests=yes primary-dns=208.67.222.222 secondary-dns=208.67.220.220


Untuk koneksi client, kita menggunakan koneksi wireless pada wlan2 dengan range IP client 10.10.10.2 s/d 10.10.10.254 netmask 255.255.255.0, dimana IP 10.10.10.1 yang dipasangkan pada wlan2 berfungsi sebagai gateway dan dns server dari client. Jika anda menggunakan DNS dari salah satu isp anda, maka akan ada tambahan mangle yang akan kami berikan tanda tebal

Setelah pengkonfigurasian IP dan DNS sudah benar, kita harus memasangkan default route ke masing-masing IP gateway ISP kita agar router meneruskan semua trafik yang tidak terhubung padanya ke gateway tersebut. Disini kita menggunakan fitur check-gateway berguna jika salah satu gateway kita putus, maka koneksi akan dibelokkan ke gateway lainnya.

/ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.101.1 distance=1 check-gateway=ping
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.102.1 distance=2 check-gateway=ping


Untuk pengaturan Access Point sehingga PC client dapat terhubung dengan wireless kita, kita menggunakan perintah

/interface wireless
set wlan2 mode=ap-bridge band=2.4ghz-b/g ssid=Mikrotik disabled=no


Agar pc client dapat melakukan koneksi ke internet, kita juga harus merubah IP privat client ke IP publik yang ada di interface publik kita yaitu ether1 dan ether2.

/ip firewall nat
add action=masquerade chain=srcnat out-interface=ether1
add action=masquerade chain=srcnat out-interface=ether2


Sampai langkah ini, router dan pc client sudah dapat melakukan koneksi internet. Lakukan ping baik dari router ataupun pc client ke internet. Jika belum berhasil, cek sekali lagi konfigurasi anda.

Webproxy Internal
Pada routerboard tertentu, seperti RB450G, RB433AH, RB433UAH, RB800 dan RB1100 mempunyai expansion slot (USB, MicroSD, CompactFlash) untuk storage tambahan. Pada contoh berikut, kita akan menggunakan usb flashdisk yang dipasangkan pada slot USB. Untuk pertama kali pemasangan, storage tambahan ini akan terbaca statusnya invalid di /system store. Agar dapat digunakan sebagai media penyimpan cache, maka storage harus diformat dahulu dan diaktifkan Nantinya kita tinggal mengaktifkan webproxy dan set cache-on-disk=yes untuk menggunakan media storage kita. Jangan lupa untuk membelokkan trafik HTTP (tcp port 80) kedalam webproxy kita.


/store disk format-drive usb1
/store
add disk=usb1 name=cache-usb type=web-proxy
activate cache-usb

/ip proxy
set cache-on-disk=yes enabled=yes max-cache-size=200000KiB port=8080

/ip firewall nat
add chain=dstnat protocol=tcp dst-port=80 in-interface=wlan2 action=redirect to-ports=8080



Pengaturan Mangle
Pada loadbalancing kali ini kita akan menggunakan fitur yang disebut PCC (Per Connection Classifier). Dengan PCC kita bisa mengelompokan trafik koneksi yang melalui atau keluar masuk router menjadi beberapa kelompok. Pengelompokan ini bisa dibedakan berdasarkan src-address, dst-address, src-port dan atau dst-port. Router akan mengingat-ingat jalur gateway yang dilewati diawal trafik koneksi, sehingga pada paket-paket selanjutnya yang masih berkaitan dengan koneksi awalnya akan dilewatkan  pada jalur gateway yang sama juga. Kelebihan dari PCC ini yang menjawab banyaknya keluhan sering putusnya koneksi pada teknik loadbalancing lainnya sebelum adanya PCC karena perpindahan gateway..
Sebelum membuat mangle loadbalance, untuk mencegah terjadinya loop routing pada trafik, maka semua trafik client yang menuju network yang terhubung langsung dengan router, harus kita bypass dari loadbalancing. Kita bisa membuat daftar IP yang masih dalam satu network router dan  memasang mangle pertama kali sebagai berikut


/ip firewall address-list
add address=192.168.101.0/30 list=lokal
add address=192.168.102.0/30 list=lokal
add address=10.10.10.0/24 list=lokal

/ip firewall mangle
add action=accept chain=prerouting dst-address-list=lokal in-interface=wlan2 comment=”trafik lokal”
add action=accept chain=output dst-address-list=lokal


Pada kasus tertentu, trafik pertama bisa berasal dari Internet, seperti penggunaan remote winbox atau telnet dari internet dan sebagainya, oleh karena itu kita juga memerlukan mark-connection untuk menandai trafik tersebut agar trafik baliknya juga bisa melewati interface dimana trafik itu masuk

/ip firewall mangle
add action=mark-connection chain=prerouting connection-mark=no-mark in-interface=ether1 new-connection-mark=con-from-isp1 passthrough=yes comment=”trafik dari isp1”
add action=mark-connection chain=prerouting connection-mark=no-mark in-interface=ether2 new-connection-mark=con-from-isp2 passthrough=yes comment=”trafik dari isp2”


Umumnya, sebuah ISP akan membatasi akses DNS servernya dari IP yang hanya dikenalnya, jadi jika anda menggunakan DNS dari salah satu ISP anda, anda harus menambahkan mangle agar trafik DNS tersebut melalui gateway ISP yang bersangkutan bukan melalui gateway ISP lainnya. Disini kami berikan mangle DNS ISP1 yang melalui gateway ISP1. Jika anda menggunakan publik DNS independent, seperti opendns, anda tidak memerlukan mangle dibawah ini.

/ip firewall mangle
add action=mark-connection chain=output comment=dns dst-address=202.65.112.21 dst-port=53 new-connection-mark=dns passthrough=yes protocol=tcp comment=”trafik DNS citra.net.id”
add action=mark-connection chain=output dst-address=202.65.112.21 dst-port=53 new-connection-mark=dns passthrough=yes protocol=udp
add action=mark-routing chain=output connection-mark=dns new-routing-mark=route-to-isp1 passthrough=no


Karena kita menggunakan webproxy pada router, maka trafik yang perlu kita loadbalance ada 2 jenis. Yang pertama adalah trafik dari client menuju internet (non HTTP), dan trafik dari webproxy menuju internet. Agar lebih terstruktur dan mudah dalam pembacaannya, kita akan menggunakan custom-chain sebagai berikut :

/ip firewall mangle
add action=jump chain=prerouting comment=”lompat ke client-lb” connection-mark=no-mark in-interface=wlan2 jump-target=client-lb
add action=jump chain=output comment=”lompat ke lb-proxy” connection-mark=no-mark out-interface=!wlan2 jump-target=lb-proxy


Pada mangle diatas, untuk trafik loadbalance client pastikan parameter in-interface adalah interface yang terhubung dengan client, dan untuk trafik loadbalance webproxy, kita menggunakan chain output dengan parameter out-interface yang bukan terhubung ke interface client. Setelah custom chain untuk loadbalancing dibuat, kita bisa membuat mangle di custom chain tersebut sebagai berikut

/ip firewall mangle
add action=mark-connection chain=client-lb dst-address-type=!local new-connection-mark=to-isp1 passthrough=yes per-connection-classifier=both-addresses:3/0 comment=”awal loadbalancing klien”
add action=mark-connection chain=client-lb dst-address-type=!local new-connection-mark=to-isp1 passthrough=yes per-connection-classifier=both-addresses:3/1
add action=mark-connection chain=client-lb dst-address-type=!local new-connection-mark=to-isp2 passthrough=yes per-connection-classifier=both-addresses:3/2
add action=return chain=client-lb comment=”akhir dari loadbalancing”

/ip firewall mangle
add action=mark-connection chain=lb-proxy dst-address-type=!local new-connection-mark=con-from-isp1 passthrough=yes per-connection-classifier=both-addresses:3/0 comment=”awal load balancing proxy”
add action=mark-connection chain=lb-proxy dst-address-type=!local new-connection-mark=con-from-isp1 passthrough=yes per-connection-classifier=both-addresses:3/1
add action=mark-connection chain=lb-proxy dst-address-type=!local new-connection-mark=con-from-isp2 passthrough=yes per-connection-classifier=both-addresses:3/2
add action=return chain=lb-proxy comment=”akhir dari loadbalancing”


Untuk contoh diatas, pada loadbalancing client dan webproxy menggunakan parameter pemisahan trafik pcc yang sama, yaitu both-address, sehingga router akan mengingat-ingat berdasarkan src-address dan dst-address dari sebuah koneksi. Karena trafik ISP kita yang berbeda (512kbps dan 256kbps), kita membagi beban trafiknya menjadi 3 bagian. 2 bagian pertama akan melewati gateway ISP1, dan 1 bagian terakhir akan melewati gateway ISP2. Jika masing-masing trafik dari client dan proxy sudah ditandai, langkah berikutnya kita tinggal membuat mangle mark-route yang akan digunakan dalam proses routing nantinya

/ip firewall mangle
add action=jump chain=prerouting comment=”marking route client” connection-mark=!no-mark in-interface=wlan2 jump-target=route-client
add action=mark-routing chain=route-client connection-mark=to-isp1 new-routing-mark=route-to-isp1 passthrough=no
add action=mark-routing chain=route-client connection-mark=to-isp2 new-routing-mark=route-to-isp2 passthrough=no
add action=mark-routing chain=route-client connection-mark=con-from-isp1 new-routing-mark=route-to-isp1 passthrough=no
add action=mark-routing chain=route-client connection-mark=con-from-isp2 new-routing-mark=route-to-isp2 passthrough=no
add action=return chain=route-client disabled=no

/ip firewall mangle
add action=mark-routing chain=output comment=”marking route proxy” connection-mark=con-from-isp1 new-routing-mark=route-to-isp1 out-interface=!wlan2 passthrough=no
add action=mark-routing chain=output connection-mark=con-from-isp2 new-routing-mark=route-to-isp2 out-interface=!wlan2 passthrough=no



Pengaturan Routing
Pengaturan mangle diatas tidak akan berguna jika anda belum membuat routing berdasar mark-route yang sudah kita buat. Disini kita juga akan membuat routing backup, sehingga apabila sebuah gateway terputus, maka semua koneksi akan melewati gateway yang masing terhubung


/ip route
add check-gateway=ping dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.101.1 routing-mark=route-to-isp1 distance=1
add check-gateway=ping dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.102.1 routing-mark=route-to-isp1 distance=2
add check-gateway=ping dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.102.1 routing-mark=route-to-isp2 distance=1
add check-gateway=ping dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.101.1 routing-mark=route-to-isp2 distance=2


Pengujian

Dari hasil pengujian kami, didapatkan sebagai berikut

Dari gambar terlihat, bahwa hanya dengan melakukan 1 file download (1 koneksi), kita hanya mendapatkan speed 56kBps (448kbps) karena pada saat itu melewati gateway ISP1, sedangkan jika kita mendownload file (membuka koneksi baru) lagi pada web lain, akan mendapatkan 30kBps (240kbps). Dari pengujian ini terlihat dapat disimpulkan bahwa

512kbps + 256kbps ≠ 768kbps
Catatan :
* Loadbalancing menggunakan teknik pcc ini akan berjalan efektif dan mendekati seimbang jika semakin banyak koneksi (dari client) yang terjadi.
* Gunakan ISP yang memiliki bandwith FIX bukan Share untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.
* Load Balance menggunakan PCC ini bukan selamanya dan sepenuhnya sebuah solusi yang pasti berhasil baik di semua jenis network, karena proses penyeimbangan dari traffic adalah berdasarkan logika probabilitas. 

By: Pujo Dewobroto (Mikrotik.co.id)

Minggu, 26 Januari 2014

Mengenal 4 Metode Load Balancing untuk Jaringan Internet Anda



Nah pemilik bisnis, jika bisnis anda sudah mulai punya 2 atau lebih jaringan internet sendiri, maka anda harus mulai membekali administrator jaringan anda dengan pengetahuan seputar Load Balancing. Kenapa penting sekali?
Pertama-tama kita harus mengerti apa yang dimaksud dengan load balancing. Yakni teknik untuk mendistribusikan beban trafik pada dua atau lebih jalur koneksi secara seimbang agar trafik dapat berjalan optimal, memaksimalkan troughput, memperkecil waktu tanggap dan menghindari overload pada salah satu jalur koneksi.
Selama ini masih banyak anggapan yang salah bahwa menerapkan teknik load balancing pada dua jalur koneksi, maka besar bandwidth yang di dapatkan menjadi dua kali lipat dari bandwidth sebelum menggunakan load balancing. Maka perlu saya jelaskan lagi bahwa load balancing tidak akan menambah besar bandwidth yang diperoleh. Tetapi hanya bertugas untuk membagi trafik dari kedua bandwidth tersebut agar dapat dipakai secara seimbang.
Metode load balancing sendiri ada 4 yang umum dipergunakan. Di antaranya: Static Route dengan Address List, Equal Cost Multi Path (ECMP), Nth, dan Per Connection Classifier (PCC). Masing-masing metode punya kelebihan, kekurangan dan karakteristiknya masing-masing. Kali ini, kita akan meluangkan waktu untuk sedikit mengenal mereka, dan mencari tahu manakah metode yang paling cocok diterapkan di jaringan anda.

1. Static route dengan Address list

Static route dengan Address list adalah metode load balancing yang mengelompokkan suatu range IP address untuk dapat di atur untuk melewati salah satu gateway dengan menggunakan static routing. Metode ini sering di gunakan pada warnet yang membedakan PC untuk browsing dengan PC untuk Game Online. Mikrotik akan menentukan jalur gateway yang di pakai dengan membedakan src-address pada  paket data.
Kelebihan: dapat membagi jaringan dengan topologi yang sederhana, tidak ribet, dan tidak ada disconnection pada client yang disebabkan perpindahan gateway karena load balancing.
Kekurangan: Gampang terjadi overload jika yang aktif hanya client-client pada salah satu address list saja.

2. Equal Cost Multi Path (ECMP)

Equal Cost Multi Path adalah pemilihan jalur keluar secara bergantian pada gateway. Contohnya jika ada dua gateway, dia akan melewati kedua gateway tersebut dengan beban yang sama (Equal Cost) pada masing-masing gateway.
Kelebihan: Dapat membagi beban jaringan berdasarkan  perbandingan kecepatan di antara 2 ISP.
Kekurangan: Sering terjadi disconnection yang disebabkan oleh routing table yang restart secara otomatis setiap 10 menit.

3. Nth

Nth bukanlah sebuah singkatan. Melainkan sebuah bilangan integer (bilangan ke-N). Nth menggunakan algoritma round robin yang menentukan pembagian pemecahan connection yang akan di-mangle ke rute yang dibuat untuk load balancing. Pada dasarnya, koneksi yang masuk ke proses router akan menjadi satu arus yang sama. Walaupun mereka datang dari interface yang berbeda. Maka pada saat menerapkan metode Nth, tentunya akan ada batasan ke router untuk hanya memproses koneksi dari sumber tertentu saja. Ketika router telah membuat semacam antrian baru untuk batasan yang kita berikan di atas, baru proses Nth di mulai.
Kelebihan: Dapat membagi penyebaran paket data yang merata pada masing-masing gateway.
Kekurangan: Kemungkinan terjadi terputusnya koneksi yang disebabkan perpindahan gateway karena load balancing.

4. Per Connection Classifier (PCC)

Per Connection Classifier merupakan metode yang menspesifikasikan suatu paket menuju gateway suatu koneksi tertentu. PCC mengelompokkan trafik koneksi yang keluar masuk router menjadi beberapa kelompok. Pengelompokan ini bisa dibedakan berdasarkan src-address, dst-address, src-port dan dst-port. Mikrotik akan mengingat-ingat jalur gateway yang telah dilewati di awal trafik koneksi. Sehingga pada paket-paket data selanjutnya yang masih berkaitan akan dilewatkan pada jalur gateway yang sama dengan paket data sebelumnya yang sudah dikirim.
Kelebihan: Mampu menspesifikasikan gateway untuk tiap paket data yang masih berhubungan dengan data yang sebelumnya sudah dilewatkan pada salah satu gateway.
Kekurangan: Beresiko terjadi overload pada salah satu gateway yang disebabkan oleh pengaksesan situs yang sama.

Jumat, 24 Januari 2014

Load Balancing Menggunakan NTH



Load balance pada mikrotik adalah teknik untuk mendistribusikan beban trafik pada dua atau lebih jalur koneksi secara seimbang, agar trafik dapat berjalan optimal, memaksimalkan throughput, memperkecil waktu tanggap dan menghindari overload pada salah satu jalur koneksi.
Selama ini banyak dari kita yang beranggapan salah, bahwa dengan menggunakan loadbalance dua jalur koneksi , maka besar bandwidth yang akan kita dapatkan menjadi dua kali lipat dari bandwidth sebelum menggunakan loadbalance (akumulasi dari kedua bandwidth tersebut). Hal ini perlu kita perjelas dahulu, bahwa loadbalance tidak akan menambah besar bandwidth yang kita peroleh, tetapi hanya bertugas untuk membagi trafik dari kedua bandwidth tersebut agar dapat terpakai secara seimbang.

Beberapa teknik load balancing yang populer yaitu NTH dan PCC (Peer Connection Classifier), kali ini yang akan aku bahas adalah NTH karena yang PCC belum tak coba :D . Load balancing yang udah aku coba di mikrotik RB 133 Router OS V. 3.13, untuk topology yang aku pakai adalah :
Ether1 : terhubung ke gateway internet 1
Ether 2 : terhubung ke gateway internet 2
Ether 3 : terhubung ke jaringan lokal
1. Konfigurasi IP Address
/ip address
add address=192.168.1.4/24 interface=ether1
add address=172.16.17.23/24 interface=ether2
add address=192.168.2.1/24 interface=ether3

Setelah selesai mengkonfigurasi ip pada masing – masing IP, sekarang kita buat mangle nya. Mangle ini berfungsi untuk menandai paket yang melalui router loadbalance kita.
/ip firewall mangle
add chain=prerouting in-interface=ether3 connection-state-new action=mark-connection new-connection-mark=conn1 nth=2,1 passtrought=yes
add chain=prerouting in-interface=ether3 action=mark-routing connection-mark=ISP1 new-routing-mark=route1
add chain=prerouting in-interface=ether3 connection-state-new action=mark-connection new-connection-mark=conn2 nth=1,1 passtrought=yes
add chain=prerouting in-interface=ether3 action=mark-routing connection-mark=ISP1 new-routing-mark=route2

sampai saat ini kita sudah selesai membuat manglenya, sekarang kita buat NAT masquerade untuk kedua gateway public tersebut
Perintah untuk membuat NAT
/ip firewall nat
add chain=src-nat out-interface=ehter1 action=masquerade
add chain=src-nat out-interface=ether2 action=masquerade

Setelah selesai membuat mangle dan masquerade, sekarang kita buat routing untuk menentukan routing dari paket yang telah di mangle tadi, di sini sekaligus untuk load balancing dan failovernya
/ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=172.16.17.1 routing-mark=route1 check-gateway=ping distance=1
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.1.1 routing-mark=route2 check-gateway=ping distance=1
add gateway=172.16.17.1
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=172.16.17.1 routing-mark=route2 distance=2
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.1.1 routing-mark=route1 distance=2

Setelah semua konfigurasi sudah selesai, coba tes download file yang besar, login ke mikrotik via winbox dan lihat di interface yang ke arah gateway internet apabila load balancing ini telah berjalan maka kedua interface tersebut akan melewatkan traffict.. (gambar uji coba terlampir)
NB : Pada gateway 1 saya mendapat bandwidth unlimited jadi bisa terlihat di interface traffictnya sampai 17Mbps
Pada gateway 2 mendapat b/w 512kbps yang dishare dengan 4 user :D, jadi traffict yang lewat di hanya dikisaran 313kbps :D


sumber : utama darmawan